Giving Away Instead of Giving Up: Rethinking Lent Through Mark 10:17-27

Lent has just begun, and I already feel uneasy. As it happens, the Bible reading from Monday Mass—just two days before the start of Lent—was one of my “least favorites.” It’s the story from Mark 10:17-27, where a good, religious man asks Jesus, “What must I do to inherit eternal life?” Jesus tells him, “Go, sell what you have, give the proceeds to the poor, and come, follow me.” At that, “the man’s face fell, and he went away sad, for he had many possessions.”

This story unsettles me because if Jesus had said the same thing to me, I, too, would have gone away sad. The truth is, I am more attached to my possessions than I’d like to admit. When I was young and had little, perhaps I could have at least considered that request. But now that I have much, what Jesus asks seems… well, ridiculous. Seriously—give away everything I’ve worked so hard for? How will I support myself in retirement and travel the world like everyone else?

Yet, the fact remains that some people have followed His advice. Some took it literally, like Bernard of Quintavalle, the first known follower of St. Francis of Assisi. A wealthy and respected man—much like the one in Mark’s Gospel—he sold everything, gave the money to the poor, and followed St. Francis. Others did it more gradually. Tom White, who funded Dr. Paul Farmer’s renowned efforts to fight tuberculosis in Haiti and beyond, died practically penniless after giving away his wealth throughout his lifetime [1].

I found a similar example closer to home. On Ash Wednesday, I visited Eddie, my tax preparer for many years. Every year, after tax season ends, he and his wife, Aida, return to the Philippines to volunteer with the Rotary Club. “We share the income we earn here to help the less fortunate there,” Aida told me. I was surprised to learn that Eddie will be 88 this year—he looks much younger—but I suspect the meaningfulness of his work keeps him going.

Jesus’ words sound radical, even impractical, because my worldly, zero-sum thinking assumes that giving away my possessions means I’ll have less. But that kind of thinking conveniently ignores the immense power of God’s generosity. Later in Mark 10, Jesus tells His disciples:

“Amen, I say to you, there is no one who has given up house… or lands for my sake and for the sake of the Gospel who will not receive a hundred times more now in this present age.”

Notice that He says “in this present age”—not just in the afterlife. With God’s generosity, Mother Frances Cabrini, the first American saint [2], and Mother Teresa traveled the world despite having virtually no money.

As Lili and I enter another decade of our lives, and as Bevo, our senior dog, grows more frail, the ashes we received on our foreheads on Ash Wednesday remind me that our time on earth is short. A wise man once said, “The only things we truly keep are those we give away” [3]. So perhaps, instead of merely giving up things this Lent, I should focus on giving them away.

“This is the fasting I choose: sharing your bread with the hungry.”

(Isaiah 58:6-7)

References

  1. Marquard, B. (2011, January 8). Rich beyond counting with compassion for the poor. Boston Globe.
  2. Ripatrazone, N. (n.d.). Mother Cabrini, the first American saint of the Catholic Church. National Endowment for the Humanities.
  3. Link, M. (1992). Vision 2000: Praying Scripture in a Contemporary Way, A Cycle. Tabor Publishing.

Prapaskah baru saja dimulai, dan saya sudah merasa gelisah. Kebetulan, bacaan Injil dari Misa hari Senin—dua hari sebelum Prapaskah dimulai—adalah salah satu yang paling sulit bagi saya. Itu adalah kisah dari Markus 10:17-27, di mana seorang pria yang baik dan beragama bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Pergilah, juallah segala yang kaumiliki, berikanlah hasilnya kepada orang miskin, lalu datanglah dan ikutlah Aku.” Mendengar itu, “wajah orang itu menjadi muram, lalu ia pergi dengan sedih, sebab ia memiliki banyak harta.”

Kisah ini mengusik saya karena jika Yesus mengatakan hal yang sama kepada saya, saya juga mungkin akan pergi dengan sedih. Sejujurnya, saya lebih terikat pada harta saya daripada yang berani saya akui. Ketika saya masih muda dan memiliki sedikit, mungkin saya setidaknya bisa mempertimbangkan permintaan itu. Tetapi sekarang, ketika saya memiliki banyak, apa yang diminta Yesus terasa… ya, tidak masuk akal. Serius saja—saya harus memberikan semua yang telah saya usahakan dengan susah payah? Bagaimana saya akan menjalani masa pensiun dan berjalan-jalan seperti orang lain?

Namun kenyataannya, ada orang-orang yang telah mengikuti nasihat-Nya. Beberapa melakukannya secara harfiah, seperti Bernard dari Quintavalle, pengikut pertama Santo Fransiskus dari Assisi. Dia adalah seorang pria kaya dan terpandang—seperti pria dalam Injil Markus—yang menjual semua miliknya, memberikan uangnya kepada orang miskin, dan mengikuti St. Fransiskus. Yang lain melakukannya secara bertahap. Tom White, yang mendanai upaya terkenal Dr. Paul Farmer dalam memerangi tuberkulosis di Haiti dan tempat lain, meninggal dalam keadaan miskin setelah memberikan seluruh kekayaannya sepanjang hidupnya.

Saya juga menemukan contoh yang serupa di sekitar saya. Pada Rabu Abu, saya mengunjungi Eddie, akuntan pajak saya sejak lama. Setiap tahun, setelah tanggal deadline pajak berakhir, dia dan istrinya, Aida, kembali ke Filipina untuk menjadi sukarelawan di Rotary Club. “Kami membagikan penghasilan yang kami peroleh di sini untuk membantu mereka yang kurang beruntung di sana,” kata Aida kepada saya. Saya terkejut mengetahui bahwa Eddie akan berusia 88 tahun tahun ini—dia tampak jauh lebih muda—tetapi saya rasa makna dalam pekerjaannya membuatnya tetap bersemangat.

Perkataan Yesus terdengar ekstrem, bahkan tidak masuk akal, karena dalam pola pikir duniawi saya yang penuh perhitungan, memberikan harta berarti saya akan memiliki lebih sedikit. Tetapi pemikiran seperti itu mengabaikan kebesaran dan kemurahan kasih Tuhan. Di bab selanjutnya dalam Markus 10, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:

“Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun yang telah merelakan rumah… atau ladang demi Aku dan demi Injil yang tidak akan menerima kembali seratus kali lipat sekarang pada zaman ini.”

Perhatikan bahwa Dia berkata “pada zaman ini,” bukan hanya di kehidupan setelah kematian. Dengan kemurahan hati Tuhan, Santa Frances Cabrini, santo pertama dari Amerika, dan Ibu Teresa dapat berkeliling dunia meskipun mereka boleh dibilang tidak memiliki uang.

Saat saya dan Lili memasuki dekade baru dalam usia kami tahun ini, dan anjing kami yang tua, Bevo, menjadi semakin lemah, abu yang kami terima di dahi pada Misa Rabu Abu mengingatkan saya bahwa waktu kita di dunia ini singkat. Seorang bijak pernah berkata, “Satu-satunya hal yang kita miliki adalah apa yang kita berikan (untuk membantu orang lain).”

Jadi, mungkin, alih-alih hanya pantang sesuatu selama Prapaskah, saya seharusnya lebih fokus untuk memberikan sumbangsih kepada sesama.

Leave a comment